Sabtu, 04 Oktober 2025

Kapitalisme dan Mekanisme Penindasan Baru

Oleh: Deor Ric Jaddon Dominggos


Kapitalisme bukan sekadar sistem ekonomi; ia adalah mekanisme yang mempertahankan ketimpangan lewat cara-cara halus namun sistematis. Dengan dalih efisiensi dan kemajuan, sistem ini menjadikan manusia sekadar angka—tenaga murah, target produksi, statistik pertumbuhan.


Kemiskinan dalam kapitalisme bukan kecelakaan, tapi kebutuhan. Selalu ada yang harus dibayar murah agar yang lain bisa meraih untung besar. Outsourcing, kerja kontrak, jam kerja panjang tanpa perlindungan, hanyalah wajah baru dari bentuk penindasan lama—yang kini dikemas lebih elegan.


Dalam logika kapitalisme, nilai manusia ditentukan dari produktivitas dan daya jualnya. Bukan dari martabat, bukan dari kebutuhan hidup layak.


Photo resource: Pinterest


Kerja tak lagi tentang kontribusi, tapi tentang efisiensi. Maka muncul istilah "tenaga kerja murah"—sebuah kontradiksi yang menunjukkan bagaimana manusia direduksi menjadi sekadar angka biaya dalam laporan keuangan.


Kapitalisme juga menanamkan mitos: bahwa keberhasilan adalah hasil kerja keras semata. Padahal medan permainannya sejak awal timpang. Yang miskin dipaksa berlari di jalur rusak, sementara segelintir lainnya melaju di jalan tol yang dibangun oleh sistem. Selama kapitalisme tetap dominan, kesejahteraan akan jadi hak eksklusif, bukan keniscayaan kolektif.


Pekerja tidak lagi dipandang sebagai subjek, tetapi objek ekonomi. Mereka bekerja lebih lama, dengan jaminan lebih sedikit, untuk hasil yang semakin tidak sebanding.


Kapitalisme menciptakan kondisi di mana kelas pekerja terus berada di bawah, tidak hanya secara ekonomi tapi juga secara psikologis.  


Mereka dijejali narasi bahwa mereka miskin karena malas, bukan karena sistemnya timpang. Bahwa mereka gagal bukan karena ada ketidakadilan struktural, tapi karena kurang usaha. Inilah kekuatan kapitalisme: menjadikan korban merasa bersalah atas penindasan yang mereka alami.


Sementara itu, pemilik modal menikmati hasil dari kerja kolektif—tanpa harus berkeringat. Mereka duduk di puncak piramida, mengendalikan sumber daya, menentukan harga, mengatur distribusi, dan membentuk opini publik. Kapitalisme membuat segalanya terlihat alami, padahal sangat terstruktur. Yang kaya makin kaya bukan karena lebih baik, tapi karena sistem menjamin mereka tetap di atas.


Bahkan inovasi teknologi yang seharusnya memudahkan hidup, dalam kerangka kapitalisme justru memperdalam jurang. Otomatisasi menggantikan tenaga kerja, tanpa ada jaminan distribusi ulang kekayaan. Teknologi jadi alat efisiensi korporat, bukan alat emansipasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peduli Literasi, Komunitas Literasi PENSIL kembali lagi dalam Sesi NGOPPI (Ngobrol Pikiran, Politik, dan Isu Sosial) Bincang Ideologi

Penulis: Ezra Yahya Sani Editor: Deor Ric Dominggos Dalam upaya memperkuat budaya literasi dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa, Komuni...