Kapitalisasi Pendidikan dan Konsep Bank Paulo Freire: Saat Ilmu Dijual, Kesadaran Dikunci
Oleh: Deor Ric Jaddon Dominggos
"Pendidikan sejati adalah tindakan pembebasan, bukan penjinakan."
– Paulo Freire
Di tengah sistem yang makin mengkapitalisasi hampir semua aspek kehidupan, pendidikan seharusnya menjadi ruang suci untuk pembebasan. Namun kenyataannya, pendidikan kini semakin mirip dengan pasar. Ilmu bukan lagi hak, tapi dagangan. Murid bukan lagi insan merdeka, tapi konsumen. Inilah wajah pendidikan saat kapitalisme menguasai ruang kelas.
Pendidikan yang Diperjualbelikan
Kapitalisasi pendidikan bisa dipahami sebagai proses ketika pendidikan berubah fungsi—dari hak dasar menjadi komoditas. Akses terhadap ilmu kini ditentukan oleh kemampuan ekonomi. Kampus-kampus membuka kelas paralel bukan karena kebutuhan akademik, tapi demi menampung lebih banyak “pasar”. Sertifikat, akreditasi, bahkan gelar, dijual dengan harga tertentu. Pendidikan akhirnya lebih mirip investasi, bukan proses pencarian makna.
Konsep Bank Paulo Freire: Murid sebagai Tabungan
Paulo Freire, seorang pemikir pendidikan revolusioner asal Brasil, menggambarkan pendidikan tradisional sebagai “Banking Concept of Education”. Dalam konsep ini, guru diposisikan sebagai pemilik kebenaran, sedangkan murid hanyalah tempat menyetor informasi. Tidak ada dialog. Tidak ada ruang kritis. Hanya transfer satu arah.
"Semakin banyak siswa menerima isi dari guru, semakin sedikit mereka mengembangkan kesadaran kritis. Mereka menjadi wadah yang harus diisi."
– Freire
Kapitalisme dan Konsep Bank: Dua Sisi Mata Uang yang Sama
Yang menarik, konsep bank Freire ini ternyata sangat paralel dengan logika kapitalisasi pendidikan. Dua-duanya bertumpu pada sistem yang menekan kesadaran, mematikan daya kritis, dan membungkam dialog.
Saat Ilmu Jadi Transaksi, Kesadaran Menjadi Korban
Sistem pendidikan kita hari ini sedang bergerak ke arah yang mengkhawatirkan. Ketika proses belajar dijalankan hanya demi nilai, ketika sekolah dihargai karena akreditasi dan bukan karena keberpihakan pada siswa, maka di situlah pendidikan telah kehilangan jiwanya.
Kapitalisasi dan konsep bank sama-sama menjadikan pendidikan sebagai alat reproduksi sosial: membentuk individu agar tunduk pada sistem, bukan mempertanyakannya. Yang lahir bukan pembebas, tapi pekerja patuh. Bukan pemikir kritis, tapi pelaku transaksional.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Pendidikan perlu dikembalikan ke ruh awalnya: membebaskan manusia dari kebodohan struktural dan ketidakadilan sosial. Ruang kelas harus menjadi arena dialog, bukan pasar. Murid perlu ditempatkan sebagai subjek yang berpikir, bukan hanya penyimpan hafalan.
"Karena sejatinya, pendidikan yang membebaskan bukan yang membuatmu patuh terhadap sistem, tapi yang membuatmu mempertanyakan kenapa sistem itu ada."
Penutup
Kapitalisasi pendidikan dan konsep bank Freire adalah cermin dari sistem yang lebih besar: sistem yang tidak ingin manusia sadar. Maka melawan keduanya bukan hanya soal reformasi sekolah, tapi soal menumbuhkan kembali kesadaran kolektif bahwa pendidikan adalah hak, bukan produk.
Ilmu bukan untuk dijual. Kesadaran bukan untuk ditukar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar