Senin, 09 Juni 2025

Kapitalisme Ekstraktif: Ancaman Nyata Bagi Tanah Surga Raja Ampat

Oleh: Deor Ric Dominggos

Di ujung timur Indonesia, tersembunyi permata alam yang dikenal dunia: Raja Ampat. Dengan gugusan pulau-pulau kecil yang eksotis dan kekayaan hayati laut yang belum tertandingi, Raja Ampat menjadi simbol keagungan ciptaan dan warisan ekologis yang tak ternilai. Namun kini, ancaman datang bukan dari luar negeri, melainkan dari dalam negeri sendiri—dalam bentuk eksploitasi tambang yang menyaru sebagai pembangunan. Inilah wajah kapitalisme ekstraktif: sistem ekonomi yang mengedepankan keuntungan modal dengan mengorbankan lingkungan hidup dan masyarakat lokal. Dalam konteks Raja Ampat, kapitalisme ekstraktif hadir lewat praktik pertambangan yang mengancam ruang hidup masyarakat adat dan keberlangsungan ekosistem global.




Kapitalisme Ekstraktif: Definisi dan Watak Aslinya


Kapitalisme ekstraktif adalah bentuk kapitalisme yang beroperasi dengan cara mengeruk sumber daya alam secara besar-besaran tanpa memperhatikan dampak sosial maupun ekologi. Sistem ini tidak hanya rakus terhadap alam, tapi juga seringkali bersifat kolonial: meminggirkan suara komunitas lokal dan menempatkan modal sebagai aktor dominan dalam pengambilan keputusan. Watak kapitalisme ekstraktif selalu memiliki pola: perusahaan besar masuk, izin diperoleh lewat celah hukum atau politik, sumber daya dikeruk, masyarakat lokal dikorbankan, dan keuntungan mengalir ke pusat kekuasaan.


Raja Ampat dan Kapitalisme Tambang


Kasus yang terjadi di Raja Ampat—terutama terkait rencana eksplorasi tambang di Pulau Kawe dan Pulau Gag—menunjukkan bagaimana sistem kapitalisme ekstraktif bekerja di wilayah yang seharusnya dilindungi. Pulau-pulau ini tidak hanya bagian dari kawasan konservasi dunia, tapi juga ruang hidup masyarakat adat Maya. Ironisnya, izin tambang tetap diberikan dengan dalih investasi dan pembangunan ekonomi. Padahal, pembangunan yang dimaksud adalah bentuk penghancuran sistemik atas ekosistem dan budaya lokal. Penolakan dari masyarakat adat, aktivis lingkungan, hingga akademisi tidak mampu menghentikan derasnya arus modal dan kebijakan yang berpihak pada investor.



Dampak Lingkungan dan Sosial


Praktik pertambangan di wilayah seperti Raja Ampat tidak bisa dianggap biasa. Karang-karang yang membutuhkan ratusan tahun untuk tumbuh dapat hancur hanya dalam hitungan minggu karena sedimentasi dan limbah tambang. Spesies laut endemik dan ekosistem mangrove terancam punah. Tak hanya itu, dari sisi sosial, masyarakat adat menghadapi risiko kehilangan tanah ulayat, mata pencaharian, hingga identitas budaya yang terikat pada ruang hidup mereka. Perlawanan mereka kerap dibungkam dengan pendekatan represif atau dikaburkan dengan janji-janji pembangunan.


Kapitalisme Ekstraktif: Kolonialisme Gaya Baru


Dalam kasus Papua—termasuk Raja Ampat—kapitalisme ekstraktif tidak bisa dilepaskan dari konteks kolonialisme internal. Ketimpangan relasi kuasa antara pusat dan daerah menciptakan ruang bagi praktik eksploitasi yang tak adil. Masyarakat Papua berulang kali menjadi objek, bukan subjek pembangunan. Mereka hanya diberi 'jatah penderitaan' sementara kekayaan alam mereka dinikmati di luar pulau. Ini adalah bentuk kolonialisme gaya baru yang membungkus keserakahan dengan jargon investasi dan pembangunan.


Kesimpulan: Saatnya Menolak dan Melawan


Kapitalisme ekstraktif bukan sekadar sistem ekonomi, tapi ideologi yang mengorbankan lingkungan demi laba. Raja Ampat tidak boleh menjadi korban berikutnya. Sudah saatnya kita menolak praktik pertambangan di kawasan konservasi dan memperjuangkan pembangunan yang berbasis keberlanjutan, keadilan sosial, serta penghormatan pada hak-hak masyarakat adat. Jika tidak, kita akan menjadi generasi yang menyaksikan kehancuran surga karena diam dalam kapitalisme yang rakus.


#saverajaampat

#savepapua


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peduli Literasi, Komunitas Literasi PENSIL kembali lagi dalam Sesi NGOPPI (Ngobrol Pikiran, Politik, dan Isu Sosial) Bincang Ideologi

Penulis: Ezra Yahya Sani Editor: Deor Ric Dominggos Dalam upaya memperkuat budaya literasi dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa, Komuni...